//
Ditengah Kabut Awan

Ya Allah dua hari yang lalu ketika hamba melihat bulan begitu indah menaungi bumi, dikelilingi awan yang mempesona, pemandangan malam itu sungguh menentramkan hati, seakan-akan hambamu ini melihat surga, surga yang didalamnya dipenuhi bintang yang bertaburan dengan serasi diantara awan-awan teduh dan sinar bulan. Namun malam ini, hambamu ini terdampar jauh, jauh sekali kedalam lubuk terdalam sanubari. Hamba dapati rasa yang sangat sulit untuk dijelaskan dengan ribuan kata-kata, rasa yang membuat hamba tidak punya minat untuk memejamkan mata malam ini. Mungkin juga ini hamba sudah mulai merasa takut akan kehilangan wahai Tuhanku. Wahai Tuhan tunjukan jalan terbaik bagi kita, bagaimanakah kita selanjutnya, bagaimana akhir dari kisah ini Wahai Tuhan, hanya Engkau yang tahu Wahai Tuhan Semesta Alam, namun jua banyak harapan hambamu ini bahwa takdir akan datang dari Engkau akan jauh lebih baik daripada bayangan hambamu ini. Apakah hamba mencintainya wahai Tuhanku? Bila memang benar, apakah cinta hambamu ini sudah kepada orang yang tepat? Apakah cinta ini, adalah cinta yang benar suci ataukah ini adalah sebuah cinta sebagai manifestasi nafsu? Wahai Tuhanku, hanya Engkaulah yang jauh lebih mengetahui dan mehami mengenai diri hamba, masa depan hamba, jalan hidup hamba lebih bahkan sangat lebih daripada diri hamba sendiri. Wahai Tuhanku, hamba memohon jangan engkau linangkan air mata diantara kedua kelopak mata hambamu ini kecuali untuk cinta sejati hamba. Wahai Tuhanku, yakinkanlah hamba secepatnya. Wahai ihsani, kenapa engkau senantiasa mengisi kekosongan relung hati ini, duhai ihsani mengapa pula engkau senantiasa datang dalam posisi yang membuat, membuat aku senantiasa serba salah, menatap berati aku salah, sedangkan menunduk aku akan jauh lebih salah. Wahai Ihsani, mengapa engkau senang sekali hinggap dimalam-malam ku, mengusik dalam setiap belaian mimpiku. Mengapa? Wahai Tuhanku, jikalau memang dia adalah manusia yang tepat untuk hambamu ini, maka dekatkanlah dia secepatnya, namun jikalau sebaliknya wahai Tuhanku, maka jauhkanlah dia sesegera. Dan mungkin pula hambamu ini teralalu malu dan takut dalam melangkah, maka, Wahai Tuhanku, beranikanlah hambamu ini, teguhkanlah hambamu ini, dekatkanlah hambamu ini, getarkanlah hati hamba ini Wahai Tuhanku. Dan akhirnya Wahai Tuhanku, hamba berserah kepadaMu.
Khafidurrohman Agustianto @ 10/07/2011

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: