//
you're reading...
Every Heart

Keresahan Cinta Heloise


Dilahirkan sebagai anak serdadu pada tahun 1079, Abelard beruntung dapat mengenyam pendidikan, suatu hal yang masih amat langka pada masa itu. Kecintaannya pada ilmu telah membawanya lepas dari ambisi kemilmiteran yang diwarisi ayahnhya. Pada usianya yang masih muda (21 tahun), Abelard berangkat ke Paris, belajar dialektika pada William dari Champaux. Sesudah keberhailan studinya dibawah asuhan William, Abelard berkembang menjadi seoarang filsuf yang orisinal. Kemahirannya, terutama dalam logika, membuat Abelard terkenal seantero Eropa, sampai ia menjadi pesaing berat bagi gurunya sendiri.
Kisah Abelard dipenuhi keberungan sampai ia mendapat jabatan terhormat, namun kepandainnya telah membuatnya sombong dan culas, dan mengakibatkan malapetaka bagi hidupnya. Puncaknya ketika Helios, yang masih muda dan rupawan diminta sebagai murid bagi Abelard dari Fulbert, bahkan Fulbert memberinya wewenang atas Heliose untuk didisiplinkan baik jiwa maupun raganya. Pengakuan ini ditulis Abelard dalam sebuah surat yang panjang, yang diberi judul Historia Calamitatum Mearum (Kisah Tentang Kemalangan, 1133) yang ditulis Abelard 15 tahun sesudah berpisah dengan Heliose.
Kisah atau lebih tepatnya tragedi pecintaannya dengan Helios, membawa Abelard menuju hukuman gantung. Tragedi ini dimulai ketika hubungan mereka tidak hanya terbatas pada hubungan pengajaran, antara guru dan murid, tetapi berlanjut dengan hubungan prcintaan antara dua kekasih yang berakhir dengan kehamilan Heliose. Kisah mereka penuh keindahan, bahakan cinta Helios amat besar kepada Abelard, dalam suatu kesempatan Helios menulis sebuah surat yang dalam “Engkau lebih berkewajiban menulis surat penghibur bagiku daripada siapa pun yang lain, karena kita terkait dengan perkawinan suci. Dan kesusahanku ini bukanlah akibat ulahmu juga? Tetapi, untuk bersikap adil, kewajiban itu mendesak terutama karena cintaku yang tetap utuh untukmu. Aku menginginkan dirimu dan bukan harta ataupun ketenaranmu. Itulah alasanku mengapa aku dulu menolar rekayasa perkawinan itu. Bahkan seperti sudah kunyatakan pula kepadamu, aku lebih ikhlas disebut ‘gundik’ atau ‘pelacur’ sekalipun demi kebebsan dan kemurnian cinta dan demi kehormatan cita-citamu sebagai clerus dan karirmu sebagai filsuf yang tidak membina keluarga demi tugas kemanusianmu”.
Abelard tergetar waktu itu. Kepatuhan Heliose kepada Abelard merupakan bagian dari zaman itu, sementara jiwa Helios memberontak mecoba mencari jalan lain. Abelard mengamini Helios dan mereka menikah secara diam-diam di Paris. Fulbert ingkar janji menyebarkan pernikahan terlarang ini, dan pula inilah awal puncak petaka Abelard ketika orang-orang suruhan Fulber memaksa masuk rumah Abelard dan memotong “alat vital” yang merupakan tanda kehormatan dan keperkasaan seorang laki-laki. Setelahnya Abelard dihukum gantung, namun cinta Heliose kepada Abelard begitu tadas dan lugas, bahkan dalam keadaan sekarang ketika mereka sudah kehilangan kemungkinan memperoleh nikmat jasmani. Abelard mati pertama, dan Helios tidak ada catatan sejarah yang pasti namun disebutkan dalam (Peter Albelard, 1933) Heliose menjadi taat dan penuh perhatian pada Tuhan sampai akhir hayat, sedang (The Renaissance, 1959) menyebutkan roh Heliose yang gelisah, penuh cinta manusiawi tetapi tidak terungkapkan itu, telah terbang ke wilayah selatan ke Italia. Disana roh itu telah menggerakan zaman baru, zaman yang penuhn kemanusiaan, zaman Kelahiran Baru.

Advertisements

About eross.delta

I want change the world

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: