//
you're reading...
Journey

Pesona Candi Badut – Kota Malang


Cuaca kota Malang disiang ini begitu cerah. Matahari bersinar terik. Langit biru tidak berawan, sehingga cahaya matahari langsung menerpa bumi. Suhu udara saat itu berkisar 30°C. Namun cuaca terik seperti ini malahan yang membuat jiwa petualang saya bergeliat luar biasa.

Awalnya cukup sulit untuk menentukan spot wisata apa kali ini yang akan saya kunjungi di Malang Raya, mengingat begitu banyaknya obyek yang ditawarkan kota ini, namun jiwa sejarahwan saya rupanya bangkit tanpa saya sadari sembari masih merenung dibalkon, kemudian tergiring menuju lamunan tetang era kerajaan majapahit dimana Majapahit adalah sebuah kerajaan di Indonesia yang pernah berdiri sekitar tahun 1293 – 1500M. Kerajaan ini mencapai kejayaannya dan menjadi Kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas pada masa Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 – 1389, terlepas dari predikat kerajaan Hiddu-Buddha ternyata penelitian terakhir yang dilakukan oleh sebuah LSM menyimpulkan bahwasanya kerajaan Majapahit disinyalir merupakan kerajaan Islam, dengan tanpa bermaksud membuang waktu liburan lebih lama lagi saya putuskan untuk menjelajahi situs purbakala Malang Raya saja. dengan membutuhkan waktu yang relatif singkat saya sudah menyalakan motor kesayangan untuk segera menuju situs purbakala, walupun saya sendiri sebenarnya juga masih gamang dengan tujuan saya, langsung saya pacu motor kesayangan menuju ujung gang dan berbelok menuju jalan protokol, setelah lima menit perjalanan saya terhenti di perempatan sembari perhatian saya langsung tertuju dengan petunjuk jalan yang tertulis menuju candi Badut. Hematnya kesempatan kali ini saya putuskan untuk mencoba mejelajah cadi Badut.

Wisata merupakan obat jitu penghilang stress rasanya merupakan kata kunci yang merefleksikan begitu krusialnya sebuah liburan dalam rangka menjaga kesetabilan materi dan imateri dalam setiap diri manusia, wisata sendiri bisa dalam artian yang luas, mulai dari mengunjungi spot-spot wisata sampai berolahraga. Kemudian kebanyakan orang beranggapan bahwasanya liburan yang ideal itu adalah pantai, namun senyatanya liburan di spot-spot situs prasejarah ternyata tidak kalah hebat dengan spot-spot pantai. Mengingat pula bahwa kebanyakan situs prasejarah saat ini mulai dilupakan oleh genrasi muda, maka saya merasa sanggat berkepentingan untuk menjelajahi situs Kuno Malang Raya.

Candi Badut sendiri terletak di kawasan Tidar, kota Malang. Dapat ditempuh dengan kendaraan umum jurusan Tidar. Candi ini diperkirakan berusia lebih dari 1400 tahun dan diyakini adalah peninggalan Prabu Gajayana, penguasa kerajaan Kanjuruan sebagaimna yang termaktub dalam prasati Donoyo bertahun 760M. Nama Badut sendiri berasal dari bahasa sansekerta “Bha-dyut” yang berarti sorot bintang Conapus atau sorot Agastya. Hal ini terlihat pada ruangan induk candi yang berisi sebuah pasangan arca tidak nyata dari Siwa dan Pawarti dalam bentuk lingga dan yoni. Pada bagian dinding luar terdapat relung-relung yang berisi arca Mahakal dan Nadiswara. Pada relung utara terdapat arca Durga Mahasasuramardhini. Relung timur terdapat arca Ganesha, dan disebelah selatan terdapat arca Agastya yakni Syiwa sebagai Mahaguru. Namun diantara semua arca itu hanya arca Durga Mahesasurramardhi saja yang tersisa. (http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Badut)

Perjalanan siang ini terasa begitu cepat karena memang tepat mukim saya tidak terlampau jauh dari kawasan Tidar, hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit dari perempatan jalan terakhir saya terhenti saya sudah sampai dikawasan candi Badut, namun sempat bingung juga awalnya karena saya belum bisa menemukan lokasi candi tersebut walupun petunjuk jalan menuju candi telah sampai ujung sayapun berhenti sejenak. Kebetulan saat ini ada masyarakat sekitar yang sedang berjalan melintas didepan saya, dengan sigap saya menghampiri orang tersebut dan menayakan prihal lokasi candi Badhut. Kemudian saya ditunjukan sebuah jalan kecil disamping rumah dokter setempat. Dengan mengucapkan rasa terimaksih sebelumnya cepat saja saya sudah sampai didepan gapura candi. Kebetulan saat itu ada empat orang petugas situs yang sedang ngobrol dedepan pintu masuk, langsung saya sampaikan maksud kedatangan sembari menitipkan sepeda motor kesayangan sekaligus kepada petugas situs. Kesan pertama begitu sampai di situs prasejarah ini adalah rapi, teratur dan terawat, hal ini rasanya sanggat berbeda dengan ketika candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1921 dimana bentuknya pada saat itu hanya berupa gundukan bukit batu, reruntuhan dan tanah. Orang pertama yang memberitakan keberadaan candi Badhut sendiri adalah Maureen Brecher, seorang kontrolis bangsa Belanda yang bekerja di Malang. Candi Badhut dibangun kembali pada tahun 1925-1927 dibawah pengawasan B. De Haan dari Jawatan Purbakala Hindia Belanda. Dari hasil penggalian yang dilakukan pada saat itu diketahui bahwa bangunan candi telah runtuh sama sekali, kecuali bagian kaki yang masih dapat dilihat susunannya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Badut). Pertama saya mengililingi komplek candi ini sembari mengamati detil relief yang terdapat pada bagian candi yang belum dipugar, juga beberapa bangunan cekungan yang dalam pandangan saya ini mungkin sejenis kolam atau mun mugkin tempat pemandian. Merasa sudah puas dengan areal sekitaran candi, langsung saja saya menuju bangunan pusat candi Badhut, benar sekali efek dari kerusakan yang pernah terjadi di situs ini membuat bebrapa patung dan relief sudah tidak terbaca lagi, terdapat lingga dan yoni di pusat ruangan candi karena memang ini termasuk candi Hinddu. Walaupun ada bagian yang sudah tidak asli lagi diakibatkan imbas dari pemugaran namun kesan bahwa ini adalah sebuah situs yang amat beharga dan bernialai sejarah tinggi tetap kental terasa, dan terlepas dari keelokan candi yang begitu menawan ketika penggunjung menyempatkan diri untuk duduk dibibir pintu candi maka pengunjung akan disuguhi pemandangan barusan pegunungan yang membentang tepat didepan mulut candi, angin yang berhembus pelan serta cahaya matahari yang terink semakin menguatkan nilai estetika keindahan pada candi Bandhut ini. Cukup lama saya berada di komplek badut ini sampai tidak terasa waktu sudah menunjuk pukul 13.00 WIB, maka saya putuskan untuk pulang bersama foto-foto yang telah saya ambil sebelumnya, saya sampaikan terimakasih kepada para petugas situs yang ternyata masih setia berada di depan gapura candi. Secara garis besar candi Badut sanggat indah dan sanggat pantas dijadikan tujuan wisata keluarga maupun hanya untuk sekedar nongkrong selama kegiatan tersebut tidak dalam maksud dan tujuan menrusak situs tersebut karena dibebrapa sisi candi terdapat coretan benda tajam dengan tulisan nama dan sejenis. Khafidurrohman Agustianto – eross.delta@gmail.com

Advertisements

About eross.delta

I want change the world

Discussion

2 thoughts on “Pesona Candi Badut – Kota Malang

  1. hmm.. bdhal mbeg spo awkmu pid duline..hhe

    Posted by Dandy-J | March 22, 2011, 10:04 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: